Kamis, 17 Januari 2013

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM


A.    Pendahuluan
Kurikulum sebagai program pendidikan yang telah disusun secara sistematis merupakan hal yang berperan penting bagi peserta didik. Tujuan, bahan, proses dan evaluasi pendidikan tercantum di dalamnya, dan hal itulah yang menjadi jaminan keberhasilan pendidikan bagi peserta didik. Keberhasilan pendidikan tersebut salah satunya bisa dilihat dari terbentuknya peserta didik yang mampu menghadapi perkembangan zaman beserta perkembangan teknologinya. Untuk mempersiapkan peserta didik tersebut maka perlu untuk melakukan pengembangan kurikulum pendidikan. 

B.     Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada siswa. Pada prinsipnya pengembangan kurikulum berkisar pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi dengan perkembangan pendidikan. Tetapi pada kenyataannya manusia memiliki keterbatasan dalam kemampuan menerima, menyampaikan dan mengoleh informasi, untuk itulah dibutuhkan proses pengembangan kurikulum yang akurat, terseleksi dan memiliki tingkat relevansi yang kuat. Dengan demikian, diperlukan suatu model pengembangan kurikulum dengan pendekatan yang sesuai.
Model pengembangan kurikulum merupakan ulasan teoritis tentang suatu proses pengembangan kurikulum secara menyeluruh atau dapat pula hanya mencakup salah satu komponen kurikulum. Ada yang memberikan ulasan tentang suatu proses kurikulum, dan ada juga yang hanya menekankan pada mekanisme pengembangannya saja.
Sedapat mungkin dalam pengembangan kurikulum didasarkan pada faktor-faktor yang konstan yaitu pengembangan model kurikulum perlu didasarkan pada tujuan, bahan pelajaran, proses belajar mengajar, dan evaluasi yang tergambarkan dalam proses pengembangan tersebut.

C.    Macam-macam Model Pengembangan Kurikulum
Adapun macam-macam model pengembangan kurikulum dalam tulisan ini oleh penulis akan dibagi sebagai berikut.
1.      Ralp Tyler
Menurut Tyler, sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah Idi, bahwa sangat penting pendapat secara rasional, menganalisis, menginterpretasikan kurikulum dan program pengajaran dari suatu lembaga pendidikan. Kemudian Tyler juga menempatkan empat pertanyaan dalam mengembangkan kurikulum, yaitu:
a.      What educational purposes should the school seek to attain? (objectives)
b.      What educational experiences are likely to attain these objectives? (instructional strategic and content/selecting learning experiences)
c.      How can these educational experiences be organized effectively? (organizing learning experiences)
d.      How can we determine whether these purposes are being attain? (assessment and evaluation).
Berdasarkan empat pertanyaan yang diajukan Tyler tersebut bisa kita pahami bahwa yang pertama harus diperhatikan adalah tujuan, yaitu apa tujuan pendidikan yang seharusnya dicari oleh pihak sekolah untuk dicapai. Kedua, mengenenai strategi dan isi pembelajaran yang berhubungan dengan seleksi pengalaman belajar, yaitu pengalaman belajar seperti apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Langkah ketiga adalah mengorganisasikan pengalaman belajar, yaitu bagaimana pengalaman-pengalaman belajar tersebut dapat diorganisasikan dengan efektif. Sedangkan langkah yang terakhir adalah penilaian dan evaluasi, yaitu bagaimana kita menentukan apakah tujuan tersebut telah tercapai.
Ralp Tyler sebagai bapak pengembang kurikulum (curriculum developer), telah menanamkan perlunya hal yang lebih rasional, sistematis, dan pendekatan yang berarti dalam tugas mereka. Tyler juga menguraikan dan menganalisis sumber-sumber tujuan yang datang dari anak didik, mempelajari kehidupan kontemporer, mata pelajaran yang bersifat akademik, filsafat dan psikologi belajar.
Langkah-langkah pengembangan kurikulum model Tyler bisa dilihat dari bagan berikut.

2.      Hilda Taba
Model pengembangan kurikulum Taba adalah model yang memodifikasi model dasar Tyler. Adapun langkah-langkah dalam proses pengembangan kurikulum Taba adalah:
Step 1: Diagnosis of needs
Step 2: Formulation of objectives
Step 3: Selection of content
Step 4: Organization of content
Step 5: Selection of learning experiences
Step 6: Organization of learning experiences
Step 7: Determination of what to evaluate and of the ways and means of doing it.
Berdasarkan hal tersebut, kita dapat mengetahui bahwa langkah-langkah yang digunakan Taba dalam mengembangkan kurikulum adalah diagnosis kebutuhan, formulasi pokok-pokok, seleksi isi, organisasi isi, seleksi pengalaman belajar, organisasi pengalaman belajar, dan penentuan tentang apa yang harus dievaluasi dan cara untuk melakukannya.
Diagnosis merupakan langkah pertama yang paling penting dalam menentukan kurikulum apa yang seharusnya diberikan kepada siswa. Karena latar belakang siswa sangat beragam, maka perlu untuk mendiagnosa perbedaan atau jurang pemisah, kekurangan dan variasi dalam latar belakang tersebut. Menurut Taba sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah Idi bahwa mendiagnosis kebutuhan anak didik merupakan hal pertama yang sangat penting. Informasi ini berguna dalam menentukan langkah keduanya yaitu formulasi yang jelas dan tujuan-tujuan yang komprehensif untuk membentuk dasar pengembangan elemen-elemen berikutnya. Dan hakikat tujuan (objectives) akan menentukan jenis pelajaran yang perlu diikuti.
Adapun beberapa area yang perlu diperhatikan dalam merumuskan tujuan menurut Taba adalah sebagai berikut.
a.      Concepts or ideas to be learned (konsep atau ide yang akan dipelajari)
b.      Attitude, sensitivities, and feelings to be developed (sikap, sensitivitas, dan perasaan yang akan dibangun)
c.      Ways of thinking to be reinforced, strengthened, or initiated (pola pikir yang akan ditekankan, dikuatkan, atau dirumuskan)
d.     Habits and skills to be mastered (kebiasaan dan kemampuan yang akan dikuasai)
Selanjutnya Taba juga memberikan beberapa kriteria dalam memformulasikan tujuan dalam pendidikan yaitu:
a.      A statement of objectives should describe both of the kind of behavior expected and the content or the context to which that behavior applies.
Seharusnya pernyataan tujuan menggambarkan sikap yang diharapkan dan isi dari penerapan sikap. Menurut Zainal Arifin bahwa yang dimaksud dengan “the content or the context to which that behavior applies” adalah isi yang terdapat dalam setiap mata pelajaran.
b.      Complex objectives need to be stated analytically and specifically enough so that there is no doubt as to the kind of behavior expected, or what the behavior applies to.
Tujuan yang komplek perlu dianalisis dan dispesifikan sehingga tidak ada keraguan terhadap sikap yang diharapkan atau sikap yang diterapkan.
c.      Objectives should also be so formulated that there are clear distinctions among learning experiences required to attain different behavior.
Tujuan hendaknya memberikan petunjuk bahwa ada perbedaan yang jelas tentang pengalaman belajar yang dibutuhkan untuk mencapai sikap yang berbeda.
d.     Objectives are developmental, representing roads to travel rather than terminal points.
Tujuan adalah hal yang dikembangkan, yang merupakan langkah (perjalanan) yang lebih dari sekedar titik akhir.
e.      Objectives should be realistic and should include only what can be translated into curriculum and classroom experiences.
Tujuan seharusnya realistis dan seharusnya termasuk hal yang dapat diterjemahkan ke dalam kurikulum dan pengalaman belajar.
f.       The scope of objectives should be broad enough to encompass all types of outcomes for which to school is responsible.
Jangkauan dari tujuan seharusnya menyeluruh yang meliputi semua tujuan yang akan dicapai sekolah.
Sedangkan dalam langkah ketiga yaitu seleksi isi, Taba memberikan kriteria sebagai berikut:
a.      Validity of significance of content (validitas dan signifikansi isi)
b.      Consistency with social realities (konsisten dengan realitas sosial)
c.      Balance of breadth and depth (keseimbangan antara keluasan dan kedalaman)
d.     Provision for wide range of objectives (ketentuan untuk keluasan cakupan dari tujuan)
e.      Learn ability and adaptability to experiences of students (pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan sesuai dengan pengalaman siswa)
f.       Appropriateness to the needs and interests of the students (sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa).
Langkah keempat dalam model Taba adalah organisasi isi, dimana terdapat tiga macam organisasi kurikulum yaitu, sparated subject curriculum (kurikulum dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah), correlated curriculum (sejumlah mata pelajaran dihubungkan antara satu dengan yang lainnya), dan broad field curriculum (mengkombinasikan beberapa mata pelajaran). Pada langkah kelima yaitu seleksi pengalaman belajar ini, Ella Yuleawati sebagaimana yang dikuti oleh Arifin memberikan kriteria yang perlu dicermati.
a.      Validitas, dapat diterapkan di sekolah
b.      Kelayakan dalam hal waktu, kemampuan guru, fasilitas sekolah, dan pemenuhan terhadap harapan masyarakat.
c.      Optimal dalam mengembangkan kemampuan peserta didik.
d.     Memberikan peluang untuk pengembangan berpikir rasional
e.      Memberikan peluang pengembangan kemampuan peserta didik sebagai individu dan anggota masyarakat
f.       Terbuka terhadap hal baru dan toleransi terhadap perbedaan peserta didik.
g.      Memotivasi belajar lebih lanjut.
h.      Memenuhi kebutuhan peserta didik
i.        Memperluas minat peserta didik
j.        Mengembangkan kebutuhan pengembangan ranah kognitif, afektif, psikomotorik, sosial, emosi, dan spiritual peserta didik.
Tahap organisasi pengalaman belajar selanjutnya harus memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik. Pada tahap yang terakhir yaitu evaluasi dan cara melakukan evaluasi Taba menganjurkan beberapa hal yaitu:
a.      Criteria for a program of evaluation (menentukan kriteria program penilaian)
b.      A comprehensive evaluation program (menyusun program penilaian yang menyeluruh)
c.      Techniques for securing evidence (teknik mengumpulkan data)
d.     Interpretation of evaluation data (menginterpretasikan data penilaian)
e.      Translation of evaluation data into the curriculum (menerjemahkan data evaluasi ke dalam kurikulum)
f.       Evaluation as a cooperative enterprise. (evaluasi sebagai usaha kerjasama)
Dakir menyatakan bahwa model pengembangan kurikulum yang dikembangan Taba ini adalah model terbalik yang didapatkan atas dasar data induktif, karena biasanya pengembangan kurikulum didahului oleh konsep-konsep yang datangnya dari atas secara deduktif. Sedangkan model Taba ini dilaksanakan dengan terlebih dahulu mencari data dari lapangan dengan cara mengadakan percobaan, kemudian disusun teori atas dasar hasil nyata, kemudian diadakan pelaksanaan.
Secara lebih detail Nana Syaodih Sukmadinata menunjukkan lima langkah pengembangan kurikulum model terbalik Taba. Pertama mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru. Kedua, menguji unit eksperimen. Ketiga, mengadakan revisi dan konsolidasi. Keempat, pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum. Kelima adalah implementasi dan diseminasi.
Model pengembangan kurikulum Tyler dan Taba dikategorikan ke dalam Rational Model atau Objectives Model, karena keduanya berpendapat bahwa dalam pengembangan kurikulum bersifat rasional, sistematis dan berfokus pada tujuan. Model tersebut memiliki beberapa kelebihan dan juga kekurangan sebagai berikut.
Adapun kelebihan Rational Model yaitu:
a.       Menghindari kebingungan dimana para pendidik dan para pengembang kurikulum memberikan suatu jalan yang tidak berbelit-belit dan mempunyai pendekatan waktu yang efisien sehingga bisa menemukan atau melakukan tugas kurikulum dengan baik.
b.      Dengan menekankan pada peranan dan nilai tujuan-tujuan (objectives), model ini membuat para pengembang kurikulum bisa berpikir serius tentang tugas mereka.
c.       Dengan tata urutan pengembangan kurikulum dari tujuan, formulasi isi, aktivitas belajar, sampai pada evaluasi sejauh mana tujuan-tujuan tersebut dicapai, merupakan daya tarik tersendiri dari model ini.

Sedangkan kelemahan Rational Model yaitu:
a.       Latar belakang pengalaman dan kurangnya persiapan diri seorang pendidik untuk berpikir dan mengembangkan pemikirannya secara logis dan sistematis akan mengalami kesulitan dalam menggunakan model ini.
b.      Kurang jelasnya hakikat belajar mengajar, karena seringkali pembelajaran justru terjadi di luar tujuan-tujuan tersebut.
c.       Terlalu berlebihan menekankan pada formula hasil seperti mementingkan tujuan perilaku (behavior objectives).

3.      D.K. Wheeler
Berbeda dengan Tyler dan Taba, Wheeler mempunyai argument tersendiri agar pengembang kurikulum dapat menggunakan proses melingkar (a cycle process) dalam mengembangkan kurikulum, dimana setiap elemen saling berhubungan dan saling bergantung. Sebenarnya model Wheeler ini juga rasional, dimana secara umum suatu langkah tidak dapat diseleaikan sebelum langkah-langkah sebelumnya terselesaikan, tetapi hanya representasinya agak berbeda. Adapun langkah-langkah atau Phases Wheeler adalah:
a.      Selection of aims, goals, and objectives (seleksi maksud, tujuan dan sasaran)
b.      Selection of learning experiences to help achieve these aims, goals, and objectives. (seleksi pengalaman belajar untuk membantu mencapai maksud, tujuan dan sasaran)
c.      Selection of content through which certain types of experiences may be offered (seleksi isi melalui tipe-tipe tertentu dari pengalaman yang mungkin ditawarkan)
d.     Organization and integration of learning experiences and contents with respect to the teaching learning process (organisasi dan integrasi pengalaman belajar dan isi yang berkenaan dengan proses belajar mengajar)
e.      Evaluation of each phase and the problems of goals (evaluasi setiap fase dan masalah tujuan-tujuan).
Kontribusi Wheeler dalam pengembangan kurikulum adalah penekanannya terhadap hakikat melingkar yang memberikan indikasi bahwa langkah-langkah di dalamnya bersifat berkelanjutan memiliki makna responsive terhadap perubahan-perubahan pendidikan yang ada. Hal ini juga menekankan pada saling ketergantungan antara satu elemen dengan elemen kurikulum lain.

4.      Audery dan Howard Nicholls
Audery dan Howard Nicholls mendefinisikan kembali metode Tyler, Taba, dan Wheeler dengan menekankan pada kurikulum proses yang bersiklus atau berbentuk lingkaran dengan langkah awalnya adalah analisis situasi. Mereka menitikberatkan pada pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya kebutuhan untuk kurikulum baru yang muncul dari adanya perubahan situasi. Fase analisis situasi ini merupakan sesuatu yang memaksa para pengembang kurikulum untuk lebih responsif terhadap lingkungan dan terutama dengan kebutuhan anak didik.
 Adapun langkah-langkah tersebut adalah:
a.      Situational analisys (analisis situasi)
b.      Selection of objectives (seleksi tujuan)
c.      Selection and organization of content (seleksi dan organisasi isi)
d.     Selection and organization of method (seleksi dan organisasi metode)
e.      Evaluation (evaluasi)
Model pengembangan Wheeler dan Nicholls termasuk ke dalam model pengembangan kurikulum cycle models. Sama dengan rational models, maka cycle models ini juga memiliki beberapa kelebihan dan juga kelemahan. Adapun kelebihan dari cycle models adalah:
a.       Memiliki struktur logis kurikulum yang dikembangkannya
b.      Dengan menerapkan situational analysis sebagai titik permulaan dapat memberikan dasar data sehingga tujuan-tujuan yang lebih efektif mungkin akan dikembangkan.
c.       Melihat berbagai elemen kurikulum sebagai asal yang terus menerus, sehingga dapat menanggulangi situasi-situasi baru dan mempunyai konsekuensi untuk bereaksi terhadap perubahan situasi.
Sedangkan kelemahan dari cycle models adalah karena model ini memiliki beberapa kesamaan dengan rational model  maka kelemahan yang dimiliki oleh model ini pun hampir sama dengan yang telah diuraikan sebelumnya. Tetapi kelemahan yang lebih menonjol adalah membutuhkan banyak waktu untuk menganalisis situasi belajar. Melihat kondisi juga bahwa kebanyakan pendidik lebih suka mengandalkan intuisi daripada menggunakan basis data yang sistematis dan sesuai dengan situasi.

5.      Decker Walker
Walker berpendapat bahwa proses pengembangan kurikulum yang terjadi dalam persiapan yang natural lebih baik dari pada proses di dalam kurikulum itu sendiri. Berikut fase-fase yang ditunjukkan oleh Walker.
Langkah pertama pada model Walker ini adalah adanya pernyataan platform yang diorganisasikan oleh para pengembang, yang berisi serangkaian ide, preferensi atau pilihan, pendapat, keyakinan, dan nilai-nilai yang dimiliki kurikulum. Sehingga para pengembang kurikulum tidak memulai tugasnya dalam keadaan kosong.
Memasuki fase berikutnya adalah fase pertimbangan mendalam dimana individu mempertahankan pernyataan platform mereka sendiri dan menekankan pada ide-ide yang ada. Berbagai peristiwa ini memberikan suatu situasi dimana pengembang juga berusaha menjelaskan ide-ide mereka dan mencapai suatu consensus. Hal yang sangat kompleks ini terjadi sebelum actual curriculum didesain.
Fase terakhir model ini adalah pengembang membuat keputusan tentang berbagai komponen proses atau elemen-elemen kurikulum, dimana keputusan ini diambil setelah ada diskusi mendalam dan dikompromikan oleh individu-individu.

6.      Malcolm Skilbeck
Malcolm Skilbeck mengembangkan suatu interaksi alternative atau model dinamis bagi proses kurikulum, yang disebut dengan model dynamic in nature. Model ini menetapkan bahwa pengembang kurikulum harus mendahulukan suatu elemen kurikulum dan memulainya dengan suatu urutan dari urutan yang telah ditentukan oleh model rasional.
Jika dilihat bahwa susunan model ini secara logis termasuk kategori rational by nature. Skillbeck sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah idi mengingatkan bahwa pengembang kurikulum perlu mendahulukan rencana mereka dengan memulainya dari salah satu langkah dari langkah yang ada dan meneruskannya dalam bentuk berurutan. Pengembang kurikulum juga harus mampu mengatasi segala perbedaan dalam langkah-langkah tersebut secara bersamaan.
Model pengembangan kurikulum yang dikembangkan oleh Walker dan Skilback merupakan model pengembangan kurikulum Interaction Model atau Dynamic Model. Adapun kelebihan dari model pengembangan kurikulum ini adalah:
a.       Memiliki prosedur yang lebih realistis dan fleksibel untuk pengembangan kurikulum, khususnya dari sudut pandang guru atau pendidik yang tentunya memiliki tugas yang banyak.
b.      Pengembang lebih bebas dan menjadi lebih kreatif dengan tidak dituliskannya tujuan-tujuan yang bersifat perilaku.
Sedangkan kelemahan dari model pengembangan ini adalah:
a.       Dalam pelaksanaannya akan cukup membingungkan karena pendekatannya yang tidak sistematis sehingga akan memunculkan hasil yang kurang memuaskan.
b.      Kurangnya penekanan dalam menempatkan pembangunan dan penggunaan objectives serta petunjuk-petunjuk yang diberikan.
c.       Dengan tidak mengikuti susunan yang logis dalam pengembangan kurikulum, para pengembang hanya membuang-buang waktu sehingga kurang efektif dan efisien.

7.      Beauchamp’s system
Langkah pertama pada pengembangan kurikulum ini adalah menetapkan area atau lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi atau Negara. Tahap ini ditentukan oleh pengambil kebijaksanaan serta oleh tujuan pengembangan kurikulum tersebut.
Dalam menetapkan personalia yang terlibat dalam pengembangan kurikulum dibedakan dalam empat kategori yaitu:
a.       Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan para ahli bidang ilmu dari luar
b.      Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih
c.       Para professional dalam system pendidikan
d.      Profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat
Pada langkah organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum, Beauchamp membaginya ke dalam lima langkah yaitu:
a.       Membentuk tim pengembang kurikulum
b.      Mengadakan penilaian dan penelitian  terhadap kurikulum yang ada yang sedang digunakan
c.       Studi penjajagan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru
d.      Merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru
e.       Penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
Langkah keempat, yaitu mplementasi kurikulum membutuhkan kesiapan yang menyeluruh dari guru, siswa, fasilitas, biaya, administrasi dan pimpinan. Pada langkah kelima, evaluasi kurikulum minimal mencakup lima langkah, yaitu:
a.       Evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru
b.      Evaluasi desain kurikulum
c.       Evaluasi hasil belajar siswa
d.      Evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.

8.      Peter F. Oliva
Model perkembangan kurikulurn menurut Oliva sebagaimana yang dikutip oleh Retci Angralia terdiri dari tiga kriteria, yaitu : simple, komprehensif dan sistematis. Walaupun model ini mewakili komponen-­komponen paling penting, namun model ini dapat diperluas menjadi model yang menyediakan detil tambahan dan menunjukkan beberapa proses yang diasumsikan oleh model yang lebih sederhana. Model ini mempunyai 6 komponen yaitu:
a.       Statement of philosophy (rumusan filosofis)
b.      Statement of goals (rumusan tujuan umum)
c.       Statement of objectives (rumusan tujuan khusus)
d.      Design of plan (desain perencanaan)
e.       Implementation (implementasi)
f.       evaluation (evaluasi)
Secara lebih rinci sebagaimana yang dituliskan oleh Moh. Ikhsan R. bahwa pengembangan kurikulum Olivia terdiri dari 12 Komponen yaitu:
a.       Perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi lembaga pendidikan yang kesemuanya bersumber dari analisis kebutuhan siswa dan kebutuhan masyarakat,
b.      Analisis kebutuhan masyarakat dimana sekolah itu berada, kebutuhan siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diberikan oleh sekolah,
c.       Tujuan Umum
d.      Tujuan Khusus
e.       Mengorganisasikan rancangan dan mengimplementasikan kurikulum,
f.       Menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan umum pembelajaran
g.      Menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan khusus pembelajaran
h.      Menetapkan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan,
i.        Pengembangan kurikulum
j.        Mengimplementasikan strategi pembelajaran
k.      Pengembangan kurikulum kembali
l.        Evaluasi terhadap pembelajaran dan evaluasi kurikulum.

9.      Integrated Curriculum (Kurikulum Terpadu)
Kurikulum terpadu dasarnya dasarnya pada pemecahan suatu problem, yakni “problem sosial” yang dianggap penting dan menarik bagi anak didik. Dalam melaksanakannya disusunlah unit sumber yang mencakup bahan, kegiatan belajar, dan sumber-sumber yang sangat luas.
Sumber unit  digunakan sebagai sumber untuk satuan pelajaran yang dipelajari anak didik di kelas. Perbedaan individual anak didik tidak harus selalu mempelajari hal yang sama dan ada kebebasan bagi anak didik memilih pelajaran menurut minat, bakat, dan kemampuan mereka masing-masing. Pemahamannya bahwa unit sumber merupakan apa yang secara ideal dapat dipelajari anak didik, sedangkan satuan pelajaran adalah apa yang secara actual dipelajari anak didik.

D.    Penutup
Pengembangan kurikulum sebagai proses untuk memperbaiki serta mengembangkan program pengajaran, merupakan hal yang wajib untuk dilaksanakan. Hal ini dilaksanakan untuk mengimbangi perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi. Mengingat hal tersebut maka dalam proses pengembangannya haruslah senantiasa memperhatikan faktor-faktor masyarakat, yang salah satunya adalah peserta didik. Selain itu faktor lingkungan juga berperan serta dalam menentukan pengembangan kurikulum.
Kenyataan di lapangan masih ditemukan satuan pendidikan yang berusaha mengembangkan kurikulumnya tanpa memperhatikan faktor-faktor tersebut. Mereka hanya menambahkan beberapa kegiatan dan ekstrakurikuler dalam  isinya tanpa mempertimbangkan apakah hal tersebut bermanfaat bagi peserta didik atau tidak. Padahal berdasarkan teori dalam mengembangkan kurikulum, peserta didik merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan sebagai pertimbangan  dalam proses pengembangan kurikulum.


Daftar Rujukan

Ahmad, M., dkk, Pengembangan Kurikulum, Bandung: Pustaka Setia, 1998.
Arifin, Zainal, Pengembangan Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan Islam, Jogjakarta: Diva Press, 2012.
Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Hamalik, Oemar, Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.
Idi, Abdullah, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Jogjakarta, Ar-Ruzz Media, 2010.
Sukmadinata, Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
Taba, Hilda, Curriculum Development Theory and Practice, New York: Harcont Drace and World, 1962.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar